Kiai Sadrach: Rasul Jawa yang Lahir di Antara Dua Dunia

Agama24 menit baca

Pendahuluan: Satu Orang, Dua Dunia

Saya pertama kali membaca nama Sadrach di sebuah catatan kaki buku sejarah gereja. Hanya sebaris kalimat. Tapi ada yang menggelitik: bagaimana seorang santri pesantren bisa menjadi penginjil Kristen yang paling berpengaruh di Jawa, sekaligus paling ditakuti pemerintah kolonial Belanda? Pertanyaan itu tidak lepas dari pikiran saya selama berbulan-bulan.

Nama lengkapnya adalah Kiai Rasul Sadrach Surapranata. Ia lahir sekitar tahun 1835–1841 di wilayah Demak atau Jepara — sumber berbeda-beda soal ini — dengan nama sederhana: Radin. Bukan dari keluarga priyayi, bukan keturunan ningrat. Ayah ibunya meninggal lebih dini dari semestinya, dan seorang guru agama Islam di kampungnya yang kemudian mengambil alih pengasuhannya, lalu mengirimnya ke Pesantren Tebuireng di Jombang.

Dari sana, perjalanan Radin memutar ke arah yang tidak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Melalui serangkaian pertemuan, pergulatan batin, dan keputusan-keputusan yang berani, ia dibaptis pada 14 April 1867 dan menerima nama Sadrach. Namun yang membuat kisahnya jauh dari biasa adalah bahwa ia tidak pernah meninggalkan kulitnya sebagai orang Jawa. Ia membawa pesantren ke dalam gereja, membawa Kejawen ke dalam khotbah, dan membawa semangat kyai ke dalam penggembalaan jemaat Kristen.

Inilah yang ingin saya urai dalam tulisan ini: bagaimana Sadrach membangun sebuah teologi yang betul-betul lahir dari bumi Jawa, mengapa ia berbenturan keras dengan misionaris Belanda, dan apa yang membedakan atau menyatukannya dengan tokoh seperguruan yang lebih tua, Kiai Ibrahim Tunggul Wulung.

Teologi yang Tumbuh dari Tanah Sendiri

Dua Arus yang Saling Berbenturan

Untuk memahami apa yang dilakukan Sadrach, kita perlu mengerti lanskap keagamaan Jawa abad ke-19 terlebih dahulu. Ketika Belanda kembali berkuasa penuh atas Hindia Belanda sejak 1816, penyebaran agama Kristen ikut bergerak — tapi dengan cara yang sangat spesifik: ia datang bersama seluruh paket budaya Eropa. Gereja-gereja dibangun bergaya Barat. Khotbah disampaikan dengan logika teologi Reformed yang kaku. Jemaat diharapkan meninggalkan segala yang berbau lokal.

Di sinilah ketegangan bermula. Masyarakat Jawa, sebagaimana pernah dikatakan sejarawan Merle Ricklefs, tidak pernah benar-benar ikhlas menerima agama dari luar begitu saja — baik Islam maupun Kristen — tanpa mencampurkannya dengan lapisan spiritual yang sudah lebih dulu ada: animisme, Hindu-Buddha, dan tradisi Kejawen. Dua arus teologi pun berkembang bersisian: teologi Eropa yang dibawa para zendeling (misionaris), dan teologi lokal yang tumbuh dari bawah, dari tangan tokoh-tokoh pribumi seperti Tunggul Wulung dan Sadrach.

Sadrach berdiri tegak di arus kedua. Dan ia tidak minta maaf untuk itu.

Teologi Kontekstual sebagai Pilihan Sadar

Para akademisi di bidang studi agama menyebut pendekatan Sadrach sebagai "teologi kontekstual" — sebuah cara berteologi yang berangkat dari pengalaman hidup lokal, bukan dari doktrin yang diimpor mentah-mentah dari Eropa. Di Amerika Latin, pendekatan serupa melahirkan "teologi pembebasan". Di Afrika, ada apa yang disebut black theology. Di Jawa abad ke-19, ia menjelma dalam gerakan yang Sadrach namai Golongane Wong Kristen Kang Mardika — Persekutuan Orang Kristen yang Merdeka.

Kata "merdeka" di sini bukan kebetulan. Sadrach menginginkan dua jenis kemerdekaan sekaligus: kemerdekaan untuk mengekspresikan iman Kristen dengan cara Jawa, dan kemerdekaan dari subordinasi terhadap kekuatan kolonial — baik secara budaya, ekonomi, maupun politik. Dalam konteks Hindia Belanda yang masih dalam cengkeraman tanam paksa dan ketimpangan rasial, ini bukan sekadar pernyataan teologis. Ini adalah pernyataan politik.

Tiga Sumber Satu Teologi

Yang membuat teologi Sadrach begitu khas adalah bahwa ia ditenun dari tiga tradisi yang ia kuasai secara mendalam, bukan sekadar permukaan.

1. Akar Islam dan Pesantren

Sadrach bukan orang yang sekadar pernah tinggal di pesantren lalu lupa. Ia menghabiskan tahun-tahun formatifnya di Tebuireng dan Gontor, belajar bahasa Arab, fiqih, dan tradisi keilmuan Islam. Ketika ia kemudian menjadi pemimpin jemaat Kristen, cara ia mengorganisir komunitasnya sangat mirip dengan pola pesantren: ia menjadi kyai, jemaatnya menjadi santri, dan rumahnya di Karangjoso menjadi semacam pondok. Gelar "Kiai" yang ia sandang bukan sekadar gimmick — ia mencerminkan otoritas moral yang ia bangun dengan cara-cara yang dikenal masyarakat Jawa.

Bahkan cara ia berdebat pun khas tradisi pesantren. Dalam dunia keilmuan Islam Jawa, seorang guru ngelmu yang kalah debat harus mengakui keunggulan lawannya dan bersedia menjadi muridnya. Sadrach mengadopsi tradisi ini sepenuhnya dalam misi Kristennya. Ia tidak menyebarkan Injil dengan brosur atau pidato di podium — ia menantang guru-guru ngelmu Jawa untuk berdebat di depan umum, dan ia memenangkan banyak dari perdebatan itu.

2. Kejawen dan Mistisisme Jawa

Lapisan kedua teologi Sadrach adalah tradisi Kejawen — spiritualitas Jawa yang memadukan unsur Hindu-Buddha dengan kepercayaan animistik lokal. Ia tidak membuang lapisan ini. Sebaliknya, ia menggunakannya sebagai jembatan. Simbol-simbol, ritual, dan cara pandang kosmologis Jawa ia rawat dalam kehidupan komunitasnya. Bahkan bangunan gerejanya di Karangjoso, yang kini menjadi cagar budaya di Purworejo, disebut-sebut lebih menyerupai masjid daripada gereja bergaya Eropa — sebuah pilihan arsitektur yang sarat makna.

Bagi orang Jawa pedesaan abad ke-19 yang tidak mau kehilangan "kejawaannya", ini adalah pintu masuk yang jauh lebih ramah daripada gereja bergaya Barat yang asing dan dingin.

3. Kristus sebagai Ratu Adil

Inilah mungkin elemen paling orisinal — dan paling kontroversial — dari teologi Sadrach: ia mengidentifikasi Yesus Kristus dengan konsep Ratu Adil, tokoh mesianik dalam tradisi Jawa yang dipercaya akan datang untuk membebaskan rakyat dari penindasan.

Bagi para misionaris Belanda, ini adalah sinkretisme yang berbahaya. Tapi jika kita melihat konteksnya, penafsiran ini justru menunjukkan kepekaan pastoral yang luar biasa. Ini adalah Jawa di masa tanam paksa — masa ketika petani dipaksa menanam tanaman ekspor untuk kepentingan kolonial, ketika kelaparan menjadi biasa, ketika harapan pada perubahan menggantung tipis. Mewartakan Yesus sebagai Ratu Adil, sebagai pembebas yang dinantikan, adalah cara berbicara yang paling langsung menyentuh hati masyarakat yang tertindas.

"Teologi yang dikembangkan Sadrach ikut menyokong imajinasi tentang Ratu Adil yang berandil dalam mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Perjuangan Kiai Sadrach merupakan satu dari sekian bentuk dekolonialitas di Nusantara." — CRCS Universitas Gadjah Mada

Dengan kata lain, Sadrach tidak hanya mengajarkan doktrin keselamatan — ia juga sedang berbicara tentang keadilan sosial, jauh sebelum istilah itu populer dalam teologi modern.

Konflik dengan Zending Belanda: Lebih dari Sekadar Perbedaan Doktrin

Ketika Sukses Menjadi Ancaman

Ada ironi besar dalam kisah Sadrach: semakin ia berhasil, semakin ia dicurigai. Pada tahun 1890, jemaatnya sudah mencapai tujuh ribu orang, tersebar di berbagai desa di Jawa Tengah. Tidak ada institusi gereja Eropa mana pun yang pernah meraih angka seperti itu di tanah Jawa dalam waktu singkat. Tapi alih-alih mendapat pujian, Sadrach justru mendapat pengawasan yang semakin ketat.

Kecemburuan ada di sana, tentu saja. Tapi ada sesuatu yang lebih mendasar: keberhasilan Sadrach mengancam dua hal sekaligus — otoritas teologis para misionaris Belanda dan stabilitas politik pemerintah kolonial. Residen Bagelen W. Ligtvoet, wakil pemerintah kolonial di wilayah itu, mulai mencari cara untuk menyingkirkannya. NGZV (Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereeniging), lembaga zending yang semula bekerja sama dengannya, berubah menjadi penyelidik.

Tuduhan-Tuduhan yang Beruntun

Tuduhan yang dilontarkan kepada Sadrach datang bertubi-tubi dan dari berbagai arah. Para zending menuduhnya melakukan sinkretisme — mencampurkan ajaran Kristen dengan Kejawen secara tidak sah. Ia dianggap tidak memahami ortodoksi Kristen yang sesungguhnya. Yang lebih serius lagi, ada laporan bahwa Sadrach pernah mengklaim dirinya sebagai penjelmaan Kristus atau sebagai Ratu Adil yang sudah datang.

Apakah klaim itu benar? Sulit dipastikan. Dalam budaya Jawa, seorang pemimpin spiritual sering diberi gelar-gelar yang bagi telinga Barat terdengar seperti penghujatan. Ketika Sadrach menambahkan nama barunya menjadi Raden Mas Ngabehi Surapranata dan tampil dengan gaya seorang pembesar Jawa lengkap dengan dayang-dayang, para misionaris Belanda menafsirkan ini sebagai bukti kesombongan yang melampaui batas. Bagi komunitas Jawa, ini mungkin sekadar cara mempertegas posisi kepemimpinannya dalam bahasa budaya yang mereka pahami.

Dari sisi pemerintah kolonial, tuduhan lain muncul: Sadrach dianggap menghasut dan mengancam stabilitas ketertiban umum. Ia bahkan sempat dipenjara gara-gara menentang kebijakan vaksinasi cacar — sebuah kebijakan yang ia tolak bukan karena menentang ilmu pengetahuan, melainkan karena curiga dengan motif pemerintah di baliknya. Setelah hampir tiga bulan dalam tahanan, ia dibebaskan karena bukti tidak cukup. Ia kembali bekerja tanpa banyak hambatan.

Lion Cachet dan Vonis Tanpa Persidangan

Puncak dari seluruh ketegangan ini terjadi antara 1891 dan 1892. NGZV mengirimkan Lion Cachet, seorang pendeta dari Rotterdam, untuk mengadakan penyelidikan resmi atas komunitas Sadrach di Jawa Tengah. Proses penyelidikan ini, dari kacamata mana pun, sangat bermasalah secara prosedural: Lion Cachet tidak pernah duduk bicara langsung dengan Sadrach. Ia mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak yang sudah lebih dulu menaruh curiga.

Hasilnya bisa ditebak: ajaran Sadrach dinilai menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Pada 1891, NGZV secara resmi memutuskan hubungan dengan seluruh jemaat Sadrach. Hubungan antara Kekristenan Eropa dan Kekristenan Jawa di wilayah ini pun terputus. Ironisnya, keputusan itu justru memperkokoh Sadrach, bukan memperlemahnya. Sebagian besar jemaatnya tetap setia. Mereka tidak memilih zending Belanda — mereka memilih kyai mereka.

Jalan Menuju Kemandirian Penuh

Sadrach sudah lama memendam satu luka: selama bertahun-tahun bekerja sama dengan para zendeling, ia tidak pernah ditahbiskan sebagai pendeta. Artinya, ia tidak berhak secara resmi untuk memberikan sakramen — baptisan, perjamuan kudus — kepada jemaatnya. Ini bukan soal gengsi. Ini soal marwah dan kelengkapan pelayanan. Hak-hak itu ada di tangan orang Eropa, dan selalu akan ada di tangan mereka selama Sadrach berada di bawah naungan NGZV.

Maka sejak 1894, Sadrach memutuskan untuk berafiliasi dengan Gereja Kerasulan yang berpusat di Jawa Barat. Di sana ia mendapatkan apa yang selama ini ia perjuangkan: pada 1899, ia ditahbiskan secara resmi sebagai Rasul Jawa di Batavia. Jabatan itu diakui secara internasional. Ia kini bisa memberikan sakramen. Ia bukan lagi pembantu — ia adalah pemimpin yang sederajat.

Jemaat terus tumbuh. Saat ia meninggal pada 14 November 1924 di Purworejo, angkanya sudah mencapai dua puluh ribu orang. Dan konfliknya dengan zending Belanda memiliki dampak yang bahkan melampaui hidupnya: pada 1904, pemerintah Hindia Belanda terpaksa menata ulang wilayah misi di Jawa — utara dipegang misionaris Jerman, selatan tetap di tangan Belanda — sebagian karena ketegangan yang ia ciptakan.

Tunggul Wulung dan Sadrach: Guru, Murid, dan Dua Cara Menjadi Orang Kristen Jawa

Sang Guru yang Terlupakan

Jika Sadrach adalah tokoh yang paling diingat dalam sejarah kristenisasi Jawa, maka Kiai Ibrahim Tunggul Wulung adalah tokoh yang paling layak diingat namun paling sering dilupakan. Ironi ini sudah sering dicatat, tapi tidak banyak berubah. Namanya hampir tidak dikenal oleh generasi Kristen Jawa saat ini, bahkan oleh jemaat-jemaat yang secara kelembagaan adalah keturunan langsung dari komunitasnya.

Tunggul Wulung lahir sekitar tahun 1800, jauh lebih tua dari Sadrach. Perjalanan spiritualnya tidak kalah berliku: ia adalah seorang penganut mistisisme Jawa yang kemudian bertemu dengan misionaris Belanda Jellesma di Mojowarno, lalu ke Batavia menemui Anthing, dan dibaptis menjadi Kristen. Ia kemudian mendirikan desa-desa Kristen di pesisir utara Jawa — Bondo, Banyutowo, Tegalombo di sekitar Jepara — dan meninggal pada 1885.

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Hubungan antara Tunggul Wulung dan Sadrach adalah salah satu kisah guru-murid yang paling menarik dalam sejarah gereja Indonesia. Sadrach — yang saat itu masih bernama Radin Abas dan sedang belajar katekisasi di Semarang — diperkenalkan kepada Tunggul Wulung. Pertemuan itu mengubah hidupnya. Ia yang tadinya masih ragu-ragu soal keyakinan barunya, setelah mendengar Tunggul Wulung berkisah, membulatkan tekad untuk menjadi Kristen. Mereka kemudian bersama-sama ke Batavia, dan di sanalah Radin Abas dibaptis menjadi Sadrach.

Keduanya sempat bekerja bersama di desa Bondo, Jepara. Ketika Tunggul Wulung berkeliling mencari anggota jemaat baru, Sadrach yang muda menggantikannya sebagai gembala sementara. Dari sini kita bisa membaca betapa Tunggul Wulung mempercayai muridnya — dan betapa murid itu juga menyerap tidak hanya ajaran, tapi juga semangat gurunya.

Yang Sama, Yang Berbeda

Dari sisi metode, keduanya berbagi warisan yang sama: debat kawruh atau ngelmu — tradisi adu argumen intelektual khas Jawa, di mana guru yang kalah debat harus mengakui keunggulan lawannya dan bersedia menjadi muridnya. Bagi keduanya, ini bukan hanya strategi misi — ini adalah bahasa yang paling dimengerti oleh masyarakat Jawa yang terbiasa menghormati otoritas keilmuan.

Keduanya juga sama-sama mempertahankan rasa hormat terhadap budaya Jawa. Mereka tidak meminta jemaatnya untuk menjadi orang Eropa demi menjadi Kristen. Dan keduanya memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam dari latar belakang mereka, yang membuat mereka bisa berkomunikasi lebih efektif dengan masyarakat Jawa Muslim.

Tapi di situlah kemiripan berakhir, dan perbedaan yang menarik mulai terlihat.

Orientasi Komunitas

Tunggul Wulung memilih membangun desa-desa Kristen yang relatif terisolasi. Konsepnya hampir seperti utopia religius — komunitas yang memisahkan diri dari lingkungan sekitarnya, membentuk enclave yang kuat secara internal. Ini memberi perlindungan dan identitas yang jelas kepada jemaatnya, tapi juga membatasi jangkauan pengaruhnya.

Sadrach memilih jalan yang berlawanan. Ia tidak membangun desa-desa baru — ia masuk ke desa-desa yang sudah ada dan mengubah mereka dari dalam. Jemaatnya tetap hidup berdampingan dengan tetangga Muslim, tetap terlibat dalam kehidupan sosial desa, dan tidak memisahkan diri. Model ini jauh lebih sulit dijalankan, tapi dampaknya jauh lebih luas.

Skala dan Jangkauan

Dari sisi skala, Sadrach jauh melampaui gurunya. Tujuh ribu jemaat pada 1890, dua puluh ribu ketika ia meninggal — tersebar di seluruh Karesidenan Jawa Tengah. Ini adalah angka yang bahkan tidak pernah dicapai oleh lembaga misi Eropa mana pun di Jawa. Tunggul Wulung, meski karismatik dan sangat dihormati, memiliki jangkauan yang lebih terbatas di sekitar wilayah Jepara dan pantai utara Jawa.

Warisan Kelembagaan

Inilah mungkin perbedaan yang paling bertahan lama. Dari komunitas yang dibangun Tunggul Wulung lahirlah cikal bakal GITJ — Gereja Injili di Tanah Jawa. Dari komunitas Sadrach lahirlah benih-benih GKJ — Gereja-gereja Kristen Jawa. Dua institusi gereja terbesar di Jawa Tengah hari ini, dengan jutaan anggota gabungan, bisa dilacak akarnya kepada dua tokoh ini. Dalam arti tertentu, setiap kali seseorang duduk di bangku GKJ atau GITJ pada hari Minggu, ia sedang duduk di atas warisan Tunggul Wulung dan Sadrach.

Relasi dengan Kekuasaan Kolonial

Perbedaan paling tajam mungkin ada di sini. Tunggul Wulung, meski juga menolak eurosentrisme dalam teologi, lebih mampu berkompromi dengan struktur misi Belanda. Sadrach sama sekali tidak. Ia menolak subordinasi sampai titik di mana ia rela dituduh sesat, dipenjara, dan dicap pemberontak. Kemandirian — bukan hanya dalam berteologi, tapi dalam berorganisasi dan berkuasa — adalah harga mati baginya.

Dan paradoksnya: justru karena kegigihannya itu, namanya yang lebih banyak diingat. Tunggul Wulung, yang lebih kooperatif, tenggelam dalam arsip. Sadrach, yang selalu bermasalah, justru abadi dalam ingatan.

Penutup: Apa yang Bisa Kita Pelajari Hari Ini?

Saya kembali ke pertanyaan awal saya: bagaimana seorang santri pesantren bisa menjadi penginjil Kristen paling berpengaruh di Jawa? Jawabannya, setelah semua yang kita telusuri bersama, ternyata sederhana: karena ia tidak pernah berhenti menjadi orang Jawa.

Sadrach tidak memilih antara Islam dan Kristen dalam pengertian yang kita bayangkan sekarang — ia mengambil yang terbaik dari semua yang ia pelajari dan meramu semuanya menjadi sesuatu yang baru, yang otentik, yang benar-benar lahir dari bumi tempat ia berpijak. Apakah ini sinkretisme? Para misionaris Belanda bilang ya. Tapi bisa juga kita menyebutnya sebagai inkulturasi — proses di mana iman yang universal menemukan bentuk ekspresinya yang lokal.

Konfliknya dengan zending Belanda bukan sekadar perselisihan teologis. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap kolonialisme yang merayap masuk lewat pintu agama. Ketika Sadrach menolak ditahbiskan oleh orang Belanda, ketika ia memilih bergabung dengan Gereja Kerasulan yang memberinya kedudukan setara, ia sedang berkata: seorang Jawa juga bisa memimpin, seorang Jawa juga bisa menjadi rasul.

Dan perbandingannya dengan Tunggul Wulung mengajarkan sesuatu yang relevan: tidak ada satu model tunggal untuk mengkontekstualisasikan iman. Ada yang memilih jalan komune yang terisolasi, ada yang memilih masuk dan mengubah dari dalam. Ada yang lebih suka damai dengan struktur, ada yang memilih konfrontasi. Keduanya bisa menghasilkan buah — selama akarnya menancap dalam ke bumi tempat ia tumbuh.

Hari ini, di era di mana pertanyaan tentang agama, budaya, dan identitas kembali menjadi perdebatan sengit, kisah Kiai Sadrach terasa sangat relevan. Ia mengingatkan kita bahwa iman yang sejati tidak perlu mencopot seseorang dari akar budayanya — justru dari akar itulah ia bisa tumbuh paling kuat.

Loading