Islam Berkemajuan: Gaya Muhammadiyah
Pendahuluan: Islam yang Memerdekakan
Ada orang yang takut kepada Islam. Bukan karena mereka tidak mengenal Islam, melainkan justru karena Islam yang mereka kenal selama ini adalah Islam yang penuh larangan, kemarahan, dan ancaman. Islam yang lebih banyak berkata 'tidak boleh' daripada membuka jalan. Islam yang mengurung daripada membebaskan. Dan sayangnya, gambaran itu sering kali diperkuat oleh cara kita sendiri — umat Islam — dalam menyampaikan agama ini kepada dunia.
Muhammadiyah hadir dengan tawaran yang berbeda. Sejak awal berdirinya pada 1912, KH. Ahmad Dahlan merumuskan Islam bukan sebagai agama yang sempit dan eksklusif, melainkan sebagai kekuatan pembebasan dan peradaban. Islam yang ia perjuangkan adalah Islam yang mengajak manusia untuk berpikir, bergerak, dan berbuat nyata bagi sesama. Islam yang memberi harapan, bukan ketakutan.
Apa Itu Islam Berkemajuan?
Islam Berkemajuan adalah konsep yang menempatkan Islam sebagai agama yang senantiasa relevan dengan konteks zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya. Ia bukan modernisme yang mengorbankan akidah, bukan pula konservatisme yang mengabaikan realitas. Islam Berkemajuan adalah jalan tengah yang mencerminkan watak Islam sebagai agama wasathan — umat pertengahan yang adil dan berimbang.
Dalam kerangka Muhammadiyah, Islam Berkemajuan memiliki beberapa ciri utama. Pertama, ia bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami secara kontekstual dan rasional. Kedua, ia berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemanusiaan universal. Ketiga, ia terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban. Keempat, ia berpihak pada kaum lemah, tertindas, dan terpinggirkan — karena itulah misi profetik Islam yang sesungguhnya.
Kuntowijoyo menyebutnya sebagai 'ilmu sosial profetik' — sebuah cara pandang yang menggabungkan humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam satu nafas. Inilah yang membuat Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan, melainkan sebuah epistemologi dan etika hidup yang komprehensif.
Islam yang Menggembirakan: Menemukan Kembali Wajah Ramah Agama
Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmatan lil 'alamin — rahmat bagi seluruh alam semesta. Kata 'rahmat' dalam tradisi Islam bukan hanya bermakna belas kasihan, melainkan juga kegembiraan, kemudahan, dan keluasan. Maka Islam yang menggembirakan adalah Islam yang setia pada misi kenabian ini.
Islam yang menggembirakan bukan berarti Islam yang murahan, yang mengorbankan prinsip demi popularitas. Ia adalah Islam yang hadir dengan wajah hangat: mengajak dengan hikmah, bukan memaksa dengan ancaman; memberi solusi, bukan hanya menyebut dosa; memeluk yang lemah, bukan mengusir yang berbeda; membangun, bukan hanya menghancurkan.
Dalam konteks pendidikan, Islam yang menggembirakan berarti ruang belajar yang penuh cinta dan semangat. Guru yang menginspirasi, bukan menakut-nakuti. Materi yang membuka cakrawala, bukan menutup pikiran. Evaluasi yang mendorong tumbuh, bukan menjatuhkan harga diri. Inilah cita-cita pendidikan Muhammadiyah yang harus terus kita perjuangkan.
Muhammadiyah: Gerakan yang Lahir dari Keprihatinan, Hidup dalam Kegembiraan
Muhammadiyah lahir dari keprihatinan melihat umat Islam yang terpuruk — miskin, bodoh, dan terjajah. Tapi respons KH. Ahmad Dahlan bukan ratapan, melainkan gerakan. Ia mendirikan sekolah, membangun rumah sakit, mengorganisir bantuan sosial. Ia tidak menunggu negara atau orang lain. Ia bergerak, mengajak, dan membangun. Itulah spirit yang harus kita warisi.
Lebih dari seabad perjalanan, Muhammadiyah kini mengelola ribuan sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial di seluruh pelosok negeri. Ini bukan prestasi untuk dibanggakan semata, melainkan amanah yang harus terus dijaga dan ditingkatkan. Setiap amal usaha Muhammadiyah adalah manifestasi konkret dari Islam Berkemajuan — bahwa iman harus berbuah perbuatan nyata yang mencerahkan.
Islam Berkemajuan dalam Konteks Pendidikan Hari Ini
Di tengah krisis moral bangsa yang telah kita bicarakan panjang lebar, Islam Berkemajuan menawarkan jalan keluar yang berbasis nilai. Pendidikan yang dilandasi spirit Islam Berkemajuan tidak akan puas hanya mencetak lulusan dengan IPK tinggi. Ia akan terus berjuang menghasilkan manusia yang memiliki dua sayap: ilmu dan akhlak. Manusia yang cerdas sekaligus berintegritas, yang kompeten sekaligus peduli.
Dalam praktiknya, ini berarti sekolah-sekolah Muhammadiyah harus menjadi laboratorium hidup bagi nilai-nilai Islam Berkemajuan. Kejujuran dilatih melalui budaya sekolah, bukan hanya diajarkan dalam buku. Kepedulian ditumbuhkan melalui program nyata bersama masyarakat. Keberanian menyatakan kebenaran dibentuk melalui lingkungan yang apresiatif terhadap perbedaan pendapat yang santun.
Tantangan: Jangan Biarkan Islam Berkemajuan Hanya Jadi Jargon
Bahaya terbesar dari sebuah konsep mulia adalah ketika ia menjadi jargon tanpa jiwa. Islam Berkemajuan bisa terdegradasi menjadi sekadar tagline di baliho dan banner, sementara praktik di lapangan masih jauh dari semangat yang dimaksud.
Kader-kader Muhammadiyah di semua lini — dari pimpinan pusat hingga ranting, dari pengelola amal usaha hingga guru di kelas — ditantang untuk menghidupkan konsep ini secara autentik. Bukan dengan ceramah dan seminar saja, melainkan dengan teladan nyata dalam setiap tindakan dan keputusan.
Karena sesungguhnya, Islam Berkemajuan yang menggembirakan itu tidak perlu banyak dibicarakan jika ia sudah hidup dalam perbuatan. Ketika warga melihat sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah yang paling jujur, paling inovatif, dan paling peduli — di situlah Islam Berkemajuan sudah berbicara sendiri.
Penutup: Berislam dengan Gembira, Bergerak dengan Cinta
Islam Berkemajuan bukan monopoli Muhammadiyah. Ia adalah panggilan bagi seluruh umat Islam yang ingin agamanya benar-benar menjadi cahaya bagi dunia. Namun Muhammadiyah, dengan rekam jejak lebih dari satu abad, memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga nyala api itu tetap hidup dan menerangi.
Di bidang pendidikan — bidang yang paling dekat dengan masa depan bangsa — spirit Islam Berkemajuan yang menggembirakan harus menjadi ruh dari setiap langkah. Dari cara guru menyapa murid di pagi hari, dari cara kepala sekolah mengambil keputusan yang adil, dari cara lembaga memperlakukan karyawan dan guru honorer dengan manusiawi.
Islam yang berkemajuan dan menggembirakan itu nyata. Ia hadir dalam senyum guru yang tulus, dalam buku yang dibaca dengan penuh semangat, dalam beasiswa yang mengangkat anak miskin menuju cita-citanya, dalam sekolah yang membuat murid merasa aman dan dicintai. Itulah gaya Muhammadiyah. Itulah gaya Islam.