Islam dan Kedamaian
Islam mengajarkan kedamaian sejati—bukan hanya ketiadaan perang, melainkan harmoni batin.
Pada mulanya, api mengira dirinya adalah bahasa terakhir dari kekuasaan manusia.
Ia tumbuh dari kayu-kayu yang diseret oleh amarah, disusui oleh angin kebencian, lalu menjulang seperti menara yang hendak menulis akhir bagi seorang nabi.
Manusia berdiri mengelilinginya. Mereka menyangka sedang membangun kematian. Padahal tanpa mereka sadari, mereka sedang mendirikan sebuah mihrab tempat langit akan memperlihatkan rahasia-Nya.
Di kejauhan, Ibrahim berjalan.
Tidak sebagai seorang pahlawan. Tidak pula sebagai seorang yang kebal terhadap luka.
Ia berjalan sebagaimana senja menerima malam; tanpa perlawanan, tanpa keluhan, sebab ia tahu bahwa matahari tidak pernah mati ketika tenggelam. Ia hanya berpindah ke ufuk yang tidak dapat dijangkau oleh mata.
Barangkali, beginilah rupa keikhlasan. Ia tidak bersuara seperti petir.
Ia mengalir seperti akar yang bekerja dalam gelap; tak terlihat, tetapi menopang seluruh pohon agar tetap berdiri ketika badai mematahkan cabang-cabangnya.
Lalu Ibrahim memandang api. Dan api memandang Ibrahim.
Yang satu adalah makhluk yang diciptakan untuk membakar. Yang lain adalah hati yang telah lama dibakar oleh cinta kepada Tuhannya.
Maka bertemulah dua nyala. Nyala yang lahir dari kayu, dan nyala yang lahir dari tauhid. Tidak ada yang mengetahui nyala mana yang lebih kuat.
Hingga langit membuka tirainya.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
"Kami berfirman, 'Wahai api, jadilah dingin dan membawa keselamatan bagi Ibrahim.'" (QS. Al-Anbiya: 69)
Sejak saat itu, api kehilangan namanya.
Ia tidak lagi dikenal sebagai pembakar.
Ia dikenang sebagai saksi bahwa segala sesuatu akan melepaskan tabiatnya ketika Allah memanggilnya.
Bukankah laut pernah lupa cara menenggelamkan Musa?
Bukankah pisau pernah lupa cara menyembelih Ismail?
Dan bukankah api pernah lupa cara membakar Ibrahim?
Semesta tidak pernah durhaka kepada Tuhannya.
Yang sering durhaka hanyalah hati manusia.
Maka Ibrahim tidak keluar dari api dengan kemenangan. Ia keluar dengan sebuah rahasia.
Bahwa yang paling dahulu harus menjadi dingin bukanlah bara. Melainkan hati.
Sebab hati yang telah menjadi taman bagi Allah, tidak lagi mengenal musim yang bernama ketakutan.
Hari ini... api itu masih berkelana.
Kadang ia menjelma fitnah yang menghitamkan langit kehidupan. Kadang ia menjadi kehilangan yang mengeringkan sungai-sungai harapan. Kadang ia berubah menjadi kegagalan yang menggugurkan daun-daun impian sebelum sempat berbuah.
Dan kadang, ia menyamar sebagai manusia yang paling kita cintai. Lalu kita menangis, seolah dunia telah selesai.
Padahal musim gugur tidak pernah membenci pohon. Ia hanya sedang mengajarkan bahwa daun harus rela gugur agar akar belajar memeluk bumi lebih dalam.
Begitulah ujian. Ia bukan algojo. Ia hanyalah musim yang diutus Tuhan agar jiwa tidak mabuk oleh musim semi.
Sejak saat itu, api kehilangan namanya. Ia tidak lagi dikenal sebagai pembakar.
Ia dikenang sebagai saksi bahwa segala sesuatu akan melepaskan tabiatnya ketika Allah memanggilnya. Bukankah laut pernah lupa cara menenggelamkan Musa? Bukankah pisau pernah lupa cara menyembelih Ismail? Dan bukankah api pernah lupa cara membakar Ibrahim?
Semesta tidak pernah durhaka kepada Tuhannya. Tidakkah engkau melihat? Bintang hanya tampak ketika langit bersedia menjadi gelap. Mutiara hanya lahir ketika kerang menerima sebutir luka. Dan doa hanya menemukan sayapnya ketika harapan manusia patah di hadapan kebesaran Allah.
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, yang keluar dari lisannya hanyalah:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung." (HR. Al-Bukhari no. 4563)
Barangkali, kalimat itu bukan sekadar zikir. Ia adalah sebuah lautan.
Barang siapa tenggelam di dalamnya, ia akan terapung di atas seluruh gelombang kehidupan. Maka jangan takut ketika hidup mengumpulkan kayu-kayu untuk membakarmu. Takutlah ketika hatimu mulai mengumpulkan dunia, hingga tak lagi ada ruang bagi Allah untuk bersemayam.
Sebab sesungguhnya, yang mengubah api menjadi dingin bukanlah mukjizat.
Melainkan cinta seorang hamba yang telah membakar seluruh ketergantungannya kepada selain Allah. Dan ketika cinta itu telah sempurna, bahkan bara pun malu untuk menyentuhnya.
Karena setiap nyala mengenali cahaya yang lebih tua daripada matahari. Cahaya yang sejak azali berbisik kepada seluruh semesta: "Jadilah." Lalu segala sesuatu pun bersujud.